Pengkhianatan (perselingkuhan Rohani)

S
aya akan sangat bersyukur jika tulisan dan kisah yang satu ini hanya bisa menolong 1 orang saja dan membuka pengertiannya, bahkan menyadarkannya dari kesalahan sama yang pernah saya lakukan – dan terlepas dari hukuman Tuhan.

Saya pernah menjalin relationship dengan seorang pria dan pasti yang tahu bukan kehendak Tuhan, selalu saya yang duluan (Yahh, entah yang manalah, tapi saya khan di berbagai negara ketemu banyak manusia lawan jenis yang tertarik-tarik, tapi kebanyakan hanya sebatas “hello, is it me you’re looking for?” Yang serius terjalin hati cuman di bawah itungan jari tangan kanan). Akhirnya kami “beberes”, tapi belum de yuro di atas hitam dan putih bahwa let’s get over it. Siratan sudah banyak kali, tapi putusan hakim belum gong keras, pelan ada. You know what I mean….

Pada waktu berikutnya, yaitu saat-saat seharusnya saya sudah memutuskannya, masuklah email mahluk lain yang ‘my goodness breath taking’ luar-dalam (eh, nggak pernah liat yang dalem-dalem sono ye…atinye maksudku). Kedatangannya bagiku serupa pancaran sinar berkat, lehernya seperti menara Daud, bagaikan merpati matanya, rambutnya bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Giginya seumpama kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan.

Saya terpaut padanya dan cepat-cepat menghantam meja hakim dengan palu besar, untuk mengumandangkan dengan yang dulu: BUBARRRR! Setelah pemberesan kilat itu, saya “hanya” membuka hati dengan yang baru ini, kami belum bertatap muka, tidak juga berinisiatif untuk ngobrol per telepon – karena jarak kali, dari ujung ke ujung bumi memang.


Saat saya tahu yang terjadi kemudian adalah Tuhan menghempaskan saya! Saya sadar bahwa saya telah mendua hati, saya telah mengkhianati seseorang, walaupun saya tahu bahwa yang pertama bukan kehendak Tuhan dan kemungkinan yang kedua ini adalah dari Tuhan, namun dalam ganjaran saya, saya tahu saya bersalah. Tahun-tahun telah lewat sejak peristiwa menyakitkan itu, tetapi tegangan tinggi dari ganjaran yang saya terima masih bergaung sampai hari ini. Saya sungguh menyesal, tetapi saya menerima dengan kerendahan hati, masih diperkenankan untuk melayani Tuhan sampai saat ini merupakan suatu anugerah besar, apa lagi yang saya minta dari Dia Sang Pengampun?

Tuhan bukanlah Tuhan yang memihak, Dia Tuhan yang adil. Sekalipun kita adalah orang-orang pilihan-Nya, dan orang di luar Tuhan tidak akan mendapatkan hidup kekal di Sorga, tetapi Dia tetap adil terhadap semua orang. Sebab nature Tuhan adalah kasih, Dia memberi hujan dan matahari dengan adil kepada orang yang baik dan jahat.

Akibat yang saya tanggung tidaklah sebanding dengan pengkhianatan saya yang “hanya” lewat email, tetapi saya telah “memarang” pria pertama hanya untuk mendapatkan yang kedua. Pengkhianatan yang berakhir dengan pembunuhan.

Saya mungkin bicara mengenai pacar, kekasih, tetapi prinsipnya jauh melebihi urusan pacar, intinya adalah sebuah pengkhianatan. Ini merupakan “benda keras”, karena dengan melakukan hal ini, kita telah “membunuh” orang pertama yang terhadapnya kita sudah mengikat janji. Apa pun bentuk janjinya, janji iman, tidak peduli janji pernikahan, hanya surat nikah tapi belum pemberkatan gereja, janji nazar kepada Tuhan, janji dengan partner bisnis, janji dengan pasangan resmi.

Lebih jauh lagi janji antara kita dengan Tuhan. Dia dengan tidak malu mengikrarkan bahwa Dia adalah Allah yang Cemburuan; Dia tidak mau diduakan, Dia tidak akan pernah merelakan Diri-Nya disejajarkan dengan mammon, uang. Entahlah apa alasannya, jika kita berkata mencintai Tuhan tetapi hati kita nempel di uang dan siang malam berurusan dengan uang dan memberikan hanya sedikit sisa dan waktu kepada Pribadi yang kita akui sebagai Yang Utama dalam hidup kita, itu merupakan bentuk pengkhianatan. Saudara akan tahu sejauh mana pengkhianatan itu sudah terjadi, hati nuranimu akan memberitahukan kepadamu. Saudara tidak mungkin berargumentasi dengan alasan-alasan yang dibenarkan manusia atau dirimu sendiri, tetapi Tuhan selalu berhubungan dengan hati nurani. Ditaruh-Nyalah hukum-Nya dalam hati kita.

Comments :

0 comments to “Pengkhianatan (perselingkuhan Rohani)”

Posting Komentar

Free Web Hosting with Website Builder