I
ni mungkin yang paling sulit yang dilakukan seorang suami:
Mencintai isterimu seperti Kristus mengasihi GerejaNya, mati bagi gerejaNya.
Mengapa saya katakan sulit?
1. Kalau gampang, Tuhan nggak akan kasih peraturan.
2. Kalau hubungan suami-isteri kebanyakan indah dan harmonis, tingkat perceraian, percekcokan, perselingkuhan akan sangat minim dibanding dengan data yang kita dapatkan sekarang ini.
3. Kalau hubungan suami isteri masih seperti pada waktu pacaran, tidak akan banyak lembaga konseling keluarga, seminar pernikahan bahagia, kiat-kiat mengembangkan keharmonisan rumah tangga, buku-buku seks untuk kebaikan hubungan, dll. Makanya tidak banyak buku untuk mengembangkan kiat berpacaran yang harmonis, karena pacaran tidak banyak masalah seperti rumah tangga.
4. Kalau menikah gampang, murid-murid Yesus nggak akan heboh waktu Gurunya melarang perceraian dengan satu alasan. Kenapa? karena mereka menginginkan bisa menceraikan isterinya dengan alasan yang mereka ajukan sendiri. Kenapa ingin bisa cerai? Karena kebanyakan kalau sudah jadi pasangan, mempertahankan cinta itu bukan hal yang mudah, apalagi rela mati seperti Kristus terhadap gereja-Nya.
Memang inilah realita hidup, folks. Para pria kalau sudah jadi suami jadi susah mencintai isterinya seperti Tuhan mencintai gereja-Nya. Padahal yang lebih mudah dari itu saja sulit dilakukan. Yang mana? Yang ini:
Kasihilah isterimu sama seperti engkau mengasihi dirimu sendiri,
tubuhmu sendiri.
Mana ada orang yang membenci tubuhnya sendiri? Efesus 5 : 33
Nah, ini susah dilakukan, kalau sudah jadi suami isteri, saling egois, saling menutup-nutupi, saling bersitegang, saling berpraduga, saling keras kepala, saling menuduh, saling dendam.
Isteri adalah bagian dari diri suami, itu sebabnya jika ia adalah bagian dari tubuhnya, ia seharusnya mendapatkan hak yang sama, pengetahuan yang sama, janji yang sama, kemudahan-kemudahan yang sama – semuanya harus imbang. Suami tidak mentang-mentang menegakkan otoritas karena ia pemegang otoritas, tetapi ia harus menyadari kesamaan hak, karena ia adalah “setengah” dari isterinya – satu tubuh khan?
Tentunya kau tidak akan menyembunyikan sesuatu bagi dirimu sendiri, nah kalau isteri adalah bagian tubuhmu, engkau tidak bisa menyembunyikannya dari isterimu. Kau juga tidak bisa kenyang setengah, kau pasti mau dipuaskan, jadi kau juga harus pikirkan isterimu. Saya punya temen orang Myanmar yang bersuamikan orang Kanada. Sebelum menikah, kami sudah wanti-wanti agar jangan menikah dengan pria itu, tapi karena cinta, yah … apa boleh buat…. Setelah menikah, mereka beli TV, karena “setengah-setengah”, isterinya juga diberi syarat untuk membayar setengah, karena dia juga sama-sama nonton. Nanti bayinya keluar, sang isteri juga harus bayar pengeluaran rumah sakit setengah, karena bikinnya sama-sama. Ini bukan maksud saya, tapi penerapan ini harus dengan Firman yang paling atas tadi: kasihi isterimu seperti Yesus mengasihi Gereja-Nya, rela mati. Jadi suami harus rela mati, rela bayar penuh, rela banting tulang, rela melakukannya untuk isterinya, bukan menuntut setengah-setengah!
Ada sedikit kiat baik yang ingin saya bagikan kepada suami-suami yang masih ingusan yang mungkin dapat sedikit menghindarkanmu dari cekcok tidak penting.
Tidak perlu muji cewek lain di hadapan isterimu secara berlebihan (biasanya tanpa kau sadari dan memang nggak ada hati lain selain kagum saja. Tapi kau sudah lupa bahwa kau sudah jarang memuji isterimu seperti ini, atau seperti waktu pacaran, sehingga hal yang tidak disengaja dan sangat spontan ini bisa disalahartikan oleh isterimu).
Tidak perlu “sok jentelmen” dengan melayani cewek lain di hadapan isterimu, misalnya ngambilin lauk di meja, nyedokin nasi ke piringnya, karena kau mungkin nggak pernah lagi lakukan itu terhadap isterimu di rumah (malah nunggu disuapin). Ini bisa disalahartikan lagi oleh isterimu.
Tidak perlu membukakan pintu mobil atau pintu mall bagi cewek lain karena dengan isterimu kau hampir tidak (bukan tidak peduli, tapi nggak mikir lagi) melakukan kebaikan gaya jentelmen yang kau tunjukkan di depan orang lain seperti ini. Jadi, hindari hal-hal yang menyandung dirimu sendiri, sok jentelmen di hadapan cewek lain tapi malah sampai rumah ditimpukin nasi bau.
Tidak perlu repot-repot bekerja lembur-lembur sampai cari perangkat sana-sini jika mengerjakan pekerjaan yang diminta cewek lain secara volunteer (bukan kepada bos atau atasan, karena itu merupakan kewajiban seorang pekerja untuk melakukan pekerjaan kantornya dengan tuntas). Karena mungkin kalau diminta melakukan sesuatu oleh isterimu engkau sudah berbau model nada malas-malasan, atau malah menyuruhnya melakukannya sendiri.
Tidak perlu membalas sms cewek lain dengan semangat, karena jika sms isterimu datang kau tidak terlalu antusias untuk segera membalasnya seperti pada waktu pacaran.
Dengan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal tersebut, engkau menyelamatkan keluargamu. Karena kau melakukannya tanpa disadari, tanpa berpikir panjang, tanpa menimbang-nimbang perasaan isterimu, walaupun pada kenyataannya engkau sungguh tulus mengasihi isterimu dan tulus hanya memperlakukan cewek lain secara jentelmen. Tapi, tidak perlu lah memperlakukan cewek lain agar dinilai baik di luaran, padahal di dalaman engkau tidak akan mendapatkan pengakuan yang baik di mata “setengah”mu itu jika ia sudah tersinggung dan sakit hati. Justru jika seorang suami di luaran memperlakukan isterinya seperti memperlakukan seorang ratu dan “tidak mempedulikan” cewek lain, ia justru mendapatkan penilaian PLUS di hadapan cewek yang kepadanya dia ingin menunjukkan kejentelmenannya. Jelas? Kebalik khan, cara pikir pria! Jangan terjebak dengan sugar coat!
Tolong ya, suami-suami, ini juga harus diberlakukan kepada Maqdalene, jangan kau memujinya berlebihan di depan isterimu, karena mungkin maksudmu baik dengan mendapatkan berkat lewat Firman yang dibawakannya, tapi karena kau sudah jarang memuji isterimu dengan pujian yang ditujukan kepada Maqdalene, maka ia akan salah tangkep, dikirain kau suka sama Maqdalene. Fokusnya harus Firmannya, bukan pembawanya; jadi sebaiknya jangan singgung-singgung nama Maqdalene di depan hidungnya, nanti kita kena damprat dan Firman Tuhan nggak nyampe ke tujuan. Jadi kenal khan maksud saya, yang penting bukan sayanya, tapi Firman Tuhan agar menyebar – tanpa menyebut nama saya. Bisa kok.
Belajarlah untuk mengutamakan isterimu, menghargainya, pertahankan kemesraan, keharmonisan, pelayanan, perhatian tanpa degradasi sejak engkau menikahinya. Dia adalah mahluk butuh perhatian, apalagi jika ia belum secure innerly, jika ada orang lain yang dipuji oleh suaminya lebih dari dirinya, atau wanita lain itu punya kemampuan lebih dari dirinya, atau lebih cantik, dia akan merasa minder, merasa tidak dicintai, tidak mendapatkan perhatian dan merasa ditolak. Ini memang riskan, sekalipun isterimu sangat rohani, pemuji penyembah, pendoa, pendeta, peniti, tetap kau harus mengerti naluri wanita, tidak perlu lah kau memuji cewek lain dan berlaku jentelmen di hadapan mereka. Cukup, kebahagiaanmu harus kau bagikan hanya untuk isterimu seorang, karena dialah setengahmu yang kepadanya kau harus rela mati.
Lalu, hai suami suami orang, belajarlah untuk memuji isterimu, lakukanlah hal-hal kecil yang mungkin bagimu tidak berarti tetapi bagi wanita itu akan menambah nilai cintamu. Coba saya tulis sedikit ya kiat menyukakan hati isterimu dan memantapkan cintamu di hadapannya:
Isterimu itu suka dipuji kecantikannya, badannya (pujilah entah gimana atau dari belahan mana duluan, walaupun dulu berbentuk gitar spanyol sekarang udah jadi gitar gembung, tetap puji dia), kemampuannya dalam bekerja, memasak, menjaga anak, dll. Harus kau paksa bibirmu itu seperti dioles oli pujian, jangan seperti papamu yang mungkin nggak pernah muji mamamu.
Kau pikir isteri itu suka diajak diranjang seperti kesukaanmu. Dia sebenernya cuman suka dibelai-belai, tapi kalau kau sudah membelainya, plus memujinya dan jika hatinya sudah kena oli, maka dia juga dengan segenap hati akan menghentarmu ke alam fantasi juga. Jadi apa pun yang kau maksud dalam hatimu, lumuri dulu hatinya dengan oli pujian, ces pleng.
Dia itu suka dimanja di depan pablik, dia suka dibanggakan di depan teman-temanmu. Jadi kau harus banggakan dia, puji kemampuannya dengan tulus tanpa membuatnya risih, akuilah di depan orang lain bahwa isterimu itu tiada duanya.
Dia juga suka shopping. Jadi sesekali bawalah dia dan manjakan dia dengan uang (kalau ada lebih). Kalau dia suka jalan, suka window shopping, pingin beli ini itu, hamburlah untuk dia sesekali. Kau akan liat untungnya nanti, apa saja yang kau maui, dia lakukan untukmu.
Seminggu atau dua minggu sekali ajaklah keluar, kencan, makan, santai tanpa dibebani rutinitas – ini akan melegakan hatinya. Memang banyak isteri yang nggak mau keluar, maunya di rumah, ya hargailah, pesanlah makanan dan santaplah di kamar bersamanya dengan terang lilin, tapi jangan sampai durinya nyangkut.
Buatlah surprise 3 bulan sekali, atau sesekali dengan membelikan hadiah yang sederhana. Baginya bukan barang yang mahal kok, tapi perhatianmu. Mungkin hanya sekedar makanan kecil kesukaannya, atau kitek warna yang dia belum punya, atau CD transparan. Whatever.
Pijit-pijit tangannya, cium kepalanya – ini hal kecil yang menelurkan buah besar.
Ini hanya sebagian kecil saja, tapi Anda bisa mengembangkannya menjadi rangkaian kebahagiaan dalam rumah tanggamu. Dan yang paling penting, lakukan semuanya dengan satu pedoman bahwa engkau rela mati baginya. Susah khan? Nggakkkk, nggak ada yang susah kalau kau mencintainya seperti waktu kau mengejarnya dulu dan waktu kau tahu bahwa dalam Tuhan sebagai suami engkau dituntut untuk melakukan ini dulu sebelum “pelayanan”.




Comments :
Posting Komentar