Kelemahan Pria

P
ria yang dimaksud di sini adalah Raja Daud; yang mana banyak sekali pria-pria di dunia ini memiliki kelemahan serupa. Saya nggak bilang semua pria, tapi banyak. Kalau pun bukan kelemahan yang ini, pasti ada kelemahan lain yang dengan mudah bisa menjadi akibat kejatuhan dan dosa yang tak tertanggulangi yang akan membuat hidup kita sengsara dunia akherat. Kita akan mempelajarinya dengan harapan dan doa saya bahwa kita tidak tertimpa akibat mengerikan seperti yang harus ditanggung Raja Daud.
Kita tidak berusaha untuk “kulitin” kelemahan Raja Daud, tetapi kita akan “mempelajari” kelemahannya agar terhindar dari jerat dosa yang sama atau kesengsaraan yang menyertai akibat dosa-dosa lain yang secara bodoh kita lakukan. Sebab yang akan kita pelajari adalah bukan dosanya, tetapi hakikat dari dosa itu sendiri dan akibat yang menyertainya. Siap?
Saya juga tidak mau berdebat secara theologi, tapi saya hanya akan menguraikan hakikat dosa. Jadi, para Theologian, please notice, kita tidak akan bongkar-bongkaran latar belakangnya untuk meriwayati mengapa Daud diperbolehkan, memiliki hak, atau secara kemanusiaan boleh saja melakukan itu karena kedudukannya sebagai raja. Tapi kita hanya akan lihat akibat, again, akibat dari perbuatannya dengan wanita-wanita itu. Ooooo,…jadi yang akan dibahas wanita? Yes. Jadi, apakah dengan posisi dan alasan-alasan bergengsi lainnya kita diperbolehkan melakukan dosa jika akibatnya adalah seperti yang akan kita lihat di bawah ini? Silakan pertimbangkan sendiri. Mari….


Waktu Daud sudah ditetapkan menjadi raja Yehuda (sementara itu beliau sabar menantikan waktu Tuhan dengan hanya merajai satu suku saja selama 7 tahun 6 bulan) dia mengambil 6 isteri yang masing-masing memberinya 1 anak. Setelah itu, waktu tua-tua Israel mendatangi dia untuk memahkotainya menjadi raja seluruh keturunan Yakub, sang raja meminta satu syarat, yaitu Mikhal, isteri pertamanya yang sudah kawin dengan pria lain agar dipisahkan dari suami resminya dan dibawa kepadanya. Daud mungkin tidak sempat memikirkan perasaan suami Mikhal yang menangis sepanjang jalan mengantar/dipisahkan dari isterinya, karena Daud berpikir bahwa ia layak memiliki isteri yang sudah ia tebus dengan 200 kulit kathan orang Filistin. Tapi bukankah by then dia sudah punya 6 isteri? Tapi, apakah argumentasinya yaitu bahwa kehendak raja harus jadi?
Disusul lagi, setelah pemerintahannya established,
Daud mengambil lagi beberapa gundik dan isteri dari Yerusalem, setelah ia datang dari Hebron dan bagi Daud masih lahir lagi anak-anak lelaki dan perempuan. Inilah nama anak-anak yang lahir bagi dia di Yerusalem: Syamua, Sobab, Natan, (Salomo), Yibhar, Elisua, Nefeg, Yafia, Elisama, Elyada dan Elifelet.
Kalau tambahan anaknya adalah 11, bisa jadi isteri dan gundiknya bertambah 11 lagi, karena sebelumnya juga dengan 6 isteri dia melahirkan 6 anak. Jadi cukup adil dalam memperlakukan mereka, supaya nggak terjadi keributan rumah tangga di dalam istana raja.
Jangan salah, selain kelemahan satu ini, Raja Daud memiliki banyakkkkkkk sekali kekuatan yang mengagumkan, bagaimana ia cinta akan Tuhannya, bagaimana ia menjadi teladan bagi rakyatnya, bagaimana ia berjuang mati-matian terhadap orang-orangnya, ia rela mati demi bangsa, ia mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan, gairahnya untuk berada di rumah Tuhan dan keturunannya yang tidak pernah dilengser dari tahkta, dan bahkan dari keturunannya muncul satu Tunas yang kerajaannya kekal.
Tapi, kita bukan sedang belajar dari kekuatan dan kebaikannya, kali ini kita sedang belajar dari kelemahan pria satu ini agar yang sama-sama punya kelemahan serupa atau kelemahan lain bisa belajar dari hakikat dosa ini dan menghindar.
Apakah sebagai raja, Daud tidak boleh mengambil banyak isteri? Bukankah dia memiliki hak penuh, sebagaimana Salomo juga memiliki isteri dan gundik 1000? Hak sih hak, tapi apa Saudara mau tetap mempertahankan status hak jika akibatnya adalah seperti yang akan kita temukan di akhir tulisan saya nanti?
15. Maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kauangkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara-saudaramu haruslah engkau mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh kauangkat atasmu.
16. Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda, sebab TUHAN telah berfirman. Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan kepadamu: Janganlah sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi.
17. Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak. (Ulangan 17:15-17)
Jelaslah sudah ada aturan main dari Tuhan agar seorang raja yang memiliki “hak”, masih tetap tidak diberi hak untuk punya banyak isteri. Dua itu udah banyak, kebanyakan malah! Bayangkan ada 2 wanita di rumah, kalau yang satu lagi dapet giliran, satunya pasti gigit kuku jempol kaki (he..he..jaman segitu belum ada Gehwol). Kalau 16 isteri? Kalau 1000? Mbuh! Jangan tanyakan aku.
OK, balik ke topik. Kegagalan Raja Daud dalam mengatasi keinginan sensualnya membawa dia tertatih-tatih dalam mengikuti perintah Tuhannya. Nafsunya terhadap wanita menjadi sumber dosa dan penderitaan besar bagi keluarganya. Mungkin rakyatnya tidak melihat hal itu sebagai sesuatu yang serius, karena raja sudah menyelamatkan mereka, memberondongi mereka dengan hasil jarahan yang berlimpah, membuat mereka kaya raya, menaungi mereka dengan keadilan, berbudi luhur dan tidak pernah merugikan mereka secara materi – tetapi hal satu inilah yang merugikannya, keluarganya dan kemudian bangsanya.
Saya harus bersedih hati sekaligus berprihatin juga mawas diri saat tenggelam dalam hidup raja besar Israel yang saya kagumi dan dikagumi oleh semua bangsa Yahudi ini. Apa yang ia lakukan tidak dapat diubah dalam sejarah kekekalan. Aib satu ini menempel bersamanya selamanya, walaupun Tuhan itu penuh kasih, maha pengampun, murah hati, panjang sabar – tetapi akibat dari dosanya dengan wanita-wanita tersebut tidak dapat digusur dengan kebaikan hati Tuhan yang Maha Pengampun.
Setelah Daud mengambil banyak isteri dan gundik-gundik, sang raja yang, maafkan saya, memiliki kelemahan serius dalam hal wanita ini masih tidak dapat mengekang nafsunya saat melihat wanita mandi telanjang dari atap sotoh istananya. (Nah, untuk ini saya tidak akan argue apakah Batsyeba sengaja mandi sore-sore pas raja memang suka jalan liat-liat dari bumbungan istananya untuk “mencobai” si handsome itu, atau memang Batsyeba mengira sang raja pergi perang dengan suaminya, karena itu memang musim perang dan raja-raja biasanya keluar untuk berantem, makanya dia bebas-bebas aja mandi sambil meliuk-liuk, entahlah – saya sih nggak gitu, liuk itu). Pokoknya kita akan fokus kepada pengendalian pria saja, atau untuk tidak bikin masalah di antara pria, pengendalian kita.
Dengan memanggil wanita seksi ini ke dalam istananya waktu suaminya tugas militer dan kemudian kedapatan hamil dan Daud berusaha menutupi aibnya dengan akhirnya membunuh Uria suami Batsyeba – ini merupakan titik peralihan dimana sang raja memasuki lembaran gelap dalam hidupnya. Sebab setelah dosa perzinahan dan pembunuhan tragis ini, mulailah kehancuran dan pemberontakan moral melanda keluarganya dan seluruh bangsa itu.
Ada hukuman bagi rumah tangga Daud, yaitu kebejatan dan kematian. Juga ada hukuman atas kerajaan Daud, yaitu pemberontakan dan pembunuhan. Dosa yang dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi dibalas dengan akibat besar secara terbuka dan ber-efek nasional. Bagi saya ini bukan “pengupasan” aib sang raja yang saya kasihi, tapi sakit yang saya rasakan mengalir dalam darah saya saat menyaksikan akibat kegagalan moral seorang pemimpin besar yang sangat dikasihi Tuhan.
Ah, andai saja Daud tidak,…andai saja dia mampu…, andai saja…. Yah, menurut kita mudah, tetapi kenyataannya dosa dan kelemahan manusia tidak semudah yang kita bayangkan. Karena Daud adalah orang yang takut akan Tuhan, orang yang mencintai hukum-hukum Tuhan, orang yang dekat di hati Tuhan – tapi menyangkut kelemahan satu ini, mengapa tidak terhindarkan, sampai-sampai mengotori sejarah hidupnya? Saya berharap suatu kali nanti ada “pemutihan”, karena saya tidak sampai hati melihat apa yang dia tanggung dalam sejarah. Walaupun pikiran manusiawi saya yang terbatas memohon “pelaburan” sistim tersebut, yang mana kemungkinan dalam kekekalan nanti tidak akan ada aib yang nempel seperti yang masih terbayang dalam sejarah Alkitab kita, dimana ada janji bahwa langit dan bumi akan lenyap, tetapi Firman-Ku tinggal tetap.
Jadi, bagaimana untuk sejarah raja Daud, saya nggak tahu. Tapi sekarang fokusnya kepada kita, agar kita belajar dari kesalahan fatal ini dan terhindar dari jerat akibat kekal. Berkat yang seharusnya mengucur kepada umat Israel, tetapi karena dosa rajanya, tahun-tahun berikutnya setelah itu terjadi kutuk atas pribadi, keluarga dan nasional. Dampak yang beriak-riak dirasakan atas keluarga dan seluruh negeri menunjukkan betapa terikatnya kesejahteraan seluruh bangsa dengan keadaan rohani dan moral pemimpinnya. Ah, rasanya saya mau stop menulis ini, karena saya takut dan hancur hati membaca dampak yang dialami raja kekasih kita ini. Tapi saya akan meneruskannya demi Saudara dan kita semua. Saya yakin raja Daud tidak akan keberatan saya menuliskannya dengan maksud mulia agar kita belajar daripadanya dan tidak menggores sejarah yang menyakitkan.
Bisa dibayangkan, dosa seorang pemimpin (baik pemimpin rumah tangga, pemimpin komsel, pemimpin jemaat, lebih-lebih pemimpin bangsa) mengakibatkan kehancuran besar bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kehidupan dan keberhasilan pemerintahan Daud yang membuat kita berdecak kagum harus secara tragis tercemar dengan kelemahan, yaitu wanita. Tuhan tidak pernah menolak Daud hamba-Nya yang setia, Daud juga sungguh-sungguh bertobat, bahkan jadi tolok ukur semua raja-raja sesudahnya – namun akibat-akibat dari pelanggarannya/ kelemahannya ini terus berlanjut hingga akhir hidupnya dan hingga sesudah itu.
Jadi, bagaimana jika kita memiliki kelemahan yang sama? Apakah kita minta agar Tuhan memotong tangan, mencungkil mata, mengebiri kita agar lebih baik kita masuk Sorga dengan tangan buntung daripada lengkap tapi masuk api neraka?
Saya mengambil sedikit kesimpulan dari pelajaran berharga ini dengan cara-cara usang yang saya yakini dan sudah berulang kali saya terapkan, walaupun masih belum sempurna. Caranya yaitu: kita harus mengesampingkan hak. Jika kita merasa kita berhak, kita mempunyai kewenangan, kesempatan, alasan-alasan tepat untuk memperoleh hak itu, marilah kita singkirkan, kesampingkan, tidak menyentuh dan MATI.
Mungkin inilah cara satu-satunya kita terhindar dari akibat maut kekal. Ini juga merupakan syarat mengikut Yesus, syarat memperoleh nyawa dalam kekekalan. Orang yang mati tidak menuntut, tidak bergeming, tidak mengingini, sekalipun sebenarnya ia mempunyai hak, mempunyai semua alasan untuk mendapatkannya – tapi demi sejarah kekal, marilah kita belajar mati daging, mati bagi diri sendiri, mati hak.
Mungkinkah dengan belajar untuk MATI, kita dapat mencapai tujuan hidup yang Tuhan tetapkan dengan sempurna? Mungkin, karena itu merupakan syarat mengikut Yesus. Tapi bagaimana caranya? Saudara sendiri yang mengerti bagaiamana caranya “membunuh” dirimu – membunuh hak-hakmu. Jika Saudara siap, saya akan memberi kunci pencapaian: dibutuhkan kerendahan hati total, untuk tidak menyentuh hakmu.
Bapa, hamba-Mu berdoa meminta kekuatan bagi para kekasih-kekasih hamba, baik pria maupun wanita yang membaca tulisan ini, agar kami diberi kepekaan untuk mengenali dosa-dosa dan kelemahan yang dapat menjerat …. (sebutkan nama Saudara) dan menggores sejarah hidup kekal ….. Engkau tahu ….. telah berjuang Bapa, Engkau tahu betapa ….. mengasihi-Mu yang tidak ingin mendukakan-Mu dengan berbuat dosa. Satu hal …… minta, Bapa, agar Engkau memberi kekuatan bagi ….. untuk tidak menyentuh hak ….. Tidak mengingini apa pun selain menyenangkan hati-Mu. Ajar ……. Untuk taat total, untuk setia, untuk hidup kudus, untuk fokus kepada panggilan tertinggi yang sudah Kau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Bapa, jangan biarkan ……. salah langkah, salah mengambil keputusan karena hanya ingin memenangkan hak …….. Mulai sekarang ini, …….. ingin MATI, agar …… dapat hidup selamanya bersama Engkau tanpa menggores hati-Mu. Terpujilah Nama Bapa yang kekal, yaitu Yesus Kristus yang …… percayai untuk menuntun …. sampai kekal, ……. Berdoa, Amin.

Comments :

0 comments to “Kelemahan Pria”

Posting Komentar

Free Web Hosting with Website Builder