Cara masuk sorga - 1

Waktu saya masukin mobil ke dalam halaman parkir rumah saya, anak tetangga tiba-tiba nongol di pinggir pagar, lalu langsung ngajak ngobrol saya. Dia pikir saya bisa denger suaranya dengan jendela tertutup. Jadi sesudah saya keluar dari mobil, saya nanya dia tadi itu ngomong apa? Dia bilang, tadi ada pengamen, aku nggak kasih duit. Lalu saya coba mikir sebentar, ini hubungannya apa yah? Lalu dia sambung lagi, mobil aku nggak bisa dimasukin di dalam rumah,kegedean…”Ooooo…” jawab saya kurang mendukung. Si anak yang jarang ketemu saya juga bingung mau panggil apa, jadi saya tanya: “Bisa bantu Tante tutup kap mobil belakang nggak?” Bisa, jawabnya lugas. Sesudah saya angkat barang, si cowok yang spontan jadi macho man ini langsung kuat-kuat nutup kap belakang mobil tetangganya yang kerepotan. Lalu dia kejar saya masuk ke dalam rumah, tanpa curiga, tanpa perasaan takut dengan orang baru, dia terusss aja ngajak ngomong. Sampai pembantunya manggil dia, dan dia permisi cepet-cepet pigi.
Anak ini baru sekitar 4 tahun, masih kecil, wajahnya polos, dan percaya sama orang asing kayak saya yang bagi orang dewasa mungkin agak mencurigakan.


Saya inget anak temen saya dulu waktu saya visit mereka dengan papi di San Diego, California. Si Elisabeth ini malu-malu kucing, tapi papi saya coba deketin terus dan ngajak ngobrol, lama-lama si anak lengket ama babeh. Dia dipangku, disayang-sayang, dielus-elus rambutnya dan berkomunikasi dengan bahasa tarzan, si anak belum gitu bisa ngomong, sementara papi juga inggrisnya tidak lebih luas dari yes or no. Jadilah gado-gado.
Setelah papi kembali, si anak punya kelakuan aneh. Ini kisah ibunya, temen deket saya Robin. Si Elizabeth suatu pagi nyiapin tas ranselnya yang kecil, dia masukin beberapa gelintir baju dan kaos kaki yang nggak komplit, lalu dia duduk di teras seperti menanti seseorang. Mamanya nanya, kau mau kemana, Elizabeth? “Mau dijemput Maq’s Daddy.” Apa udah janjian? “Udah.” Padahal nggak ada janji tentunya. Tapi itulah anak-anak, demikian percayanya dengan orang baru, kakek-kakek yang nggak aktif bahasa inggris, tapi hanya dengan sentuhan kasih yang tulus, mereka percaya kepada orang-orang di sekitar mereka.
Ada lagi kisah unik. Kali ini anaknya jemaat papi, masih bayi, baru setahunan berapa bulan gitu. Waktu itu saya undang papi mami dan rekan-rekan dekat untuk ucapan syukur atas terbitnya buku From Maq’s Heart1 – True Colors. Jadi waktu itu ortu dateng sama-sama dengan ibu dan bayi ini. Saya liat ini bocah putih, imut, matanya sipit banget, kayak nggak bisa liat orang, cuman segaris. Jadi papi suka gendong dan ciumin si bocah.
Lalu malemnya, seusai acara, ibu dan bayinya harus pulang dengan mobil dan sopir mereka ke Bandung. Waktu mau pisah, si anak ini bener-bener nangis abis, dua tangannya ngarah ke papi, nggak mau pisah! Padahal matanya kecil banget, kok masih bisa liat papi sambil nangis keluarin airmata banyak…. Dengan bangga papi bilang, “Lho bener khan, dia pasti ndak mau, maunya nempel sama papi”. (Wah curang, saya dulu nggak disayang seperti itu, malah dikunci di kamar mandi gara-gara papi nggak seneng denger saya nangis. Padahal itu khan latihan khotbah!) (Penghiburan pribadi: Ya udah, yang dulu udah berlalu, dia khan sekarang udah kakek-kakek, jadi belas kasihnya muncul kuat terhadap anak-anak; dulu dia masih belia, umur 23 tahun saat kau lahir teriak-teriak mempermalukannya, jadi kau harus didiamkan baik-baik agar kelak tidak mempermalukannya. OK, jawabku kini menyadarinya, apa boleh buat, aku lahir disaat beliau masih belia en kurang pengalaman mendidik anak hamba Tuhan).
Adik saya yang juga memperhatikan peristiwa si bayi sipit itu nangis berkata: Itulah anak kecil, dia hanya tahu (merasakan di hatinya yang halus) siapa yang menyayanginya tanpa mengerti siapakah orang itu, apa latar belakangnya, bagaimanakah dia nantinya jika bersamanya, dsb. Dia hanya membutuhkan kehangatan kasih yang dapat dirasakan dalam jiwa. Saya mengangguk tanda setuju.
Semakin kita dewasa, semakin banyak curiga, semakin negatif, semakin ketakutan, semakin protektif – itulah manusia. Waktu kecil, kalau kita ditanya cita-citanya apa, kita langsung menjawab: Jadi presiden, dokter bedah, insinyur, penyanyi dangdut terkenal, tukang sihir, menteri, prosesi, ..apa sih prosesi? tanya saya sama anak temen saya, mamanya yang dokter meluruskan: profesional. Oh, cewek hebat ini mau jadi pemain sepak bola profesional! Nah, waktu anak-anak, dengan mudah kita beberkan masa depan kita tanpa penghalang. Tapi waktu kita tambah umur, kita makin mikir: wah, dengan keadaanku yang seperti ini, latar belakangku, nilai transkripku yang mepet, insya Yesus kalau aku bisa jadi asisten juru ketik mesin manual di pengadilan gang jemprit kulon watu. Jadi untuk ngejar ke jenjang menejer di jalan Sudirman Jakarta tuh pasti mustahil punya, walaupun percaya Yesus. Bagi Yesus nggak ada yang mustahil, tapi bagiku semuanya nampak mustahil…
Itu sebabnya Tuhan bilang bahwa kita harus berubah jadi kayak anak kecil lagi, bukan ngomongnya, bukan cara pikirnya, bukan telminya, tapi hatinya. Hati yang percaya, hati yang tidak ada kejahatan di dalamnya. Herannya, Tuhan menekankannya dengan perkataan: “sesungguhnya”; coba liat ini:
lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Matius 18:3

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini,
dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Matius 18:4

Ooo, ternyata untuk jadi seperti anak kecil, bagi kita-kita yang udah dewasa diperlukan pertobatan. Ini nggak main-main lho, kalau nggak bertobat, masuk aja enggak! Pertobatan yang gimana? Dari kemahatahuan kita, dari kesombongan kita, dari ketakutan kita, ketidakpercayaan kita, dan pengertian-pengertian “kedewasaan” kita yang tidak sepadan dengan ukuran hati anak yang polos dan bersih tanpa noda. Ini aja baru start masuknya thok, man! belum dapet posisi apa-apa di Sorga.
Yang kedua, untuk jadi yang terbesar,…whoah, ini lebih sulit, tapi nggak ada yang mustahil, karena rahasianya dibukakan oleh Tuhan: merendahkan diri dan jadi seperti anak kecil.
Saya juga masih belum mencapai, masih tertatih-tatih menuju. Tapi saya tahu lika-liku kelokannya: kalau saya pas diperhadapkan dengan pilihan yang susah, akankah saya bertahan untuk membenarkan diri, atau saya berkata: Yes, I am wrong! Inilah proses balik menjadi seperti anak-anak lagi, merendahkan diri, sakit, tapi hadiahnya bukan di dunia, di Sorga. Siapa tahu dengan terus berani “menyakitkan diri” lama-lama mendapatkan yang terbesar? Walaupun itu bukan tujuan, tetapi bagian dari syarat menjadi murid, harus mati daging tiap hari.
Entahlah, Anda? Share me your story, if you will.

Comments :

0 comments to “Cara masuk sorga - 1”

Posting Komentar

Free Web Hosting with Website Builder